Sejarah Desa Lamuk

Sejarah Desa Lamuk

Asal usul desa Lamuk bermula dari salah satu tokoh yang bernama Eyang Wangsa Karta. Beliau konon merupakan seorang pengelana yang berasal dari Mataram, yang sedang melakukan perjalanan tujuan hidup dengan mengikuti arah matahari terbenam. Dalam perjalanannya yang telah Beliau tempuh berhari hari, beliau akhirnya sampai disuatu tempat di sebuah aliran sungai.

Tempat itu tampak aneh karena ditutupi kabut yang begitu tebal membatasi pandangan beliau. Karena begitu tebalnya kabut di daerah tersebut hingga tampak seperti awan, kemudian Eyang Wangsa Karta memberi daerah tersebut dengan sebutan LAMUK yang berarti kabut/awan (dan sekarang daerah itu kini lebih dikenal dengan Lamuk Legok).

Di dalam keadaan yang penuh kabut, Beliau berusaha bertahan di atas rakitnya yang terus berjalan mengikuti aliran air. Meski beliau sudah tidak tau lagi arah rakit melaju. Hingga beliau sampai di suatu tempat, dimana sungai tersebut sangat dangkal karena banyaknya batu wadas yang malang merintang. Dan Tiba tiba rakit beliau menambrak salah satu batu wadas tersebut yang membuat rakitnya rusak. Akhirnya Eyang Wangsa Karta meneruskan perjalanannya dengan berjalan kaki menelusuri daerah sekitar. Tempat dimana rakit beliau rusak diberi nama WADAS MALANG (yang sekarang lebih dikenal dengan Alasmalang).

Kemudian beliau meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki ke arah utara hingga beliau sampai di suatu tempat berupa danau atau rawa yang sangat luas. Karena tidak mungkin untuk menyebrang, beliau memutuskan untuk berjalan menelusuri tepi rawa tersebut. Dirawa tersebut beliau melihat banyak siput atau keong yang hidup disana, sehingga beliau memberi nama tempat tersebut dengan nama RAWAKEONG (yang sekarang menjadi daerah pemukiman dusun 1 Rawakeong).

Hari mulai gelap ketika Eyang Wangsa Karta sampai di sebuah pemukiman warga. Namun beliau tampak heran dengan keadaan daerah tersebut yang sangat sepi meski ada banyak rumah warga. Yang lebih aneh lagi, daerah tersebut seperti hanya di tinggali kaum pria dan tidak nampak perempuan yang tinggal. Eyang Wangsa Karta kemudian menyebut daerah tersebut dengan nama SIDUDA (yang berarti laki laki yang ditinggal istri). Setelah itu Eyang Wangsa Karta mencoba mendekati warga dan menanyakan keadaan daerah tersebut.

Ternyata para perempuan dan anak anak di daerah tersebut mengungsi ketika waktu menjelang malam, itu dikarenakan mereka takut dengan sesosok siluman srigala yang menyerang daerah tersebut di saat malam hari. Dengan kemampuan yang beliau miliki, Eyang Wangsa Karta berusaha membantu warga untuk melawan siluman srigala itu. Singkat cerita sang siluman lari kearah timur dan berhasil dikalahkan Eyang Wangsa Karta. Tempat tertangkapnya siluman tersebut kini dikenal dengan daerah MARIBAYA (yang artinya Mari Bahayane atau sudah hilang sumber bahayanya).

Eyang Wangsa Karta kemudian mengurung siluman tersebut dengan sebuah alat berupa kantong yang bisa di isi barang besar. Kantong tersebut orang dulu menyebut dengan sebuatan KAJUT. Demi keamanan warga, Beliau kemudian membawa kajut tersebut ke arah utara yang merupakan kawasan hutan dan jarang dijamah manusia. Kajut tersebut kemudian beliau masukan kedalam sebuah Goa dan menutupnya dengan 2 batu yang menghimpit yang di perkuat dengan bacaan doa. Tempat tersebut kini lebih di kenal dengan WATU SUMPEL, dan daerah dimana kajut itu dikurung kini dikenal sebagai kawasan bernama KANJUT.

Kemudian Eyang Wangsa Karta melanjutkan perjalannya dengan mendaki bukit di dekat goa. Sesampainya di puncak bukit, Eyang wangsa karta tertegun dengan tempat tersebut. Hingga beliau merasa berada di awang awang karena beliau bisa melihat ke segala penjuru dari tempat itu. Tempat itu kemudian beliau beri nama INDRAKILA. Di Indrakila juga akhirnya Eyang Wangsa Karta mencapai titik kesempurnaanya dan mengakhiri perjalanan beliau yang konon telah memakan waktu selama 29 hari.

Share:

Share on twitter
Share on facebook
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on email
Share on print